| urutan | nama pacar | Hobby Pacar |
| pertama | Ita | Tinju |
| kedua | Mita | begadang |
| ketiga | Mia | nonton film perang |
| keempat | Tami | Tidur |
Jumat, 08 Juni 2012
Tabel
Membaca
Membaca
Membaca adalah kegiatan fisik dan
mental untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi
proses pengenalan huruf-huruf. Dikatakan kegiatan fisik, karena bagian-bagian
tubuh khususnya mata, yang melakukannya. Dikatakan kegiatan mental karena
bagian-bagian pikiran khususnya perpepsi dan ingatan, terlibat di dalamnya.
Dari definisi ini, kiranya dapat dilihat bahwa menemukan makna dari bacaan
(tulisan) adalah tujuan utama membaca. Dan bukan mengenali huruf-huruf. Membaca
merupakan suatu proses membangun pemahaman dari teks yang tertulis.
Membaca sebagai suatu aktivitas yang kompleks, mempunyai
tujuan yang kompleks dan masalah yang bermacam-macam. Tujuan yang kompleks merupakan
tujuan umum dari membaca.
Jenis-jenis membaca
Jenis-jenis membaca
1) Membaca yang Bersuara
Yaitu
suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun
pembaca bersama-sama orang lain. Jenis membaca itu mencakup:
a) Membaca nyaring dan keras
Yakni
suatu kegiatan membaca yang dilakukan dengan keras, dalam buku petunjuk guru
bahasa Indonesia untuk SMP disebut membacakan. Membacakan berarti membaca untuk
orang lain atau pendengar, guna menangkap serta memahami informasi pikiran dan
perasaan penulis atau pengarangnya. Membaca nyaring ini biasa dilakukan oleh
guru, penyiar TV, penyiar radio, dan lain-lain.
b) Membaca Teknik
Membaca
teknik biasa disebut membaca lancar. Dalam membaca teknik harus memperhatikan
cara atau teknik membaca yang meliputi:
- Cara mengucapkan bunyi bahasa meliputi kedudukan mulut, lidah, dan gigi.
- Cara menempatkan tekanan kata, tekanan kalimat dan fungsi tanda-tanda baca sehingga menimbulkan intonasi yang teratur.
- Kecepatan mata yang tinggi dan pandangan mata yang jauh.
c) Membaca Indah
Membaca
indah hampir sama dengan membaca teknik yaitu membaca dengan memperlihatkan
teknik membaca terutama lagu, ucapan, dan mimik membaca sajak dalam apresiasi
sastra.
2) Membaca yang Tidak Bersuara
(dalam hati)
Yaitu
aktivitas membaca dengan mengandalkan ingatan visual yang melibatkan
pengaktifan mata dan ingatan. Jenis membaca ini biasa disebut membaca dalam
hati, yang mencakupi:
a)
Membaca teliti.
b)
Membaca pemahaman.
c)
Membaca ide.
d)
Membaca kritis.
e)
Membaca telaah bahasa.
f)
Membaca skimming.
g)
Membaca cepat.
Membaca
teliti yaitu membaca yang menuntut suatu pemutaran atau pembalikan pendidikan
yang menyeluruh.
Membaca
pemahaman yaitu membaca yang penekanannya diarahkan pada keterampilan memahami
dan menguasai isi bacaan. Jenis membaca inilah yang akan penulis kaji lebih
dalam lagi.
Membaca
ide yaitu membaca dengan maksud mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide
yang terdapat pada bacaan.
Membaca
kritis yaitu membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati,
mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan hanya mencari kesalahan.
Membaca
telaah bahasa mencakup dua hal, yaitu:
- Membaca bahasa asing yaitu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah memperbesar daya kata dan mengembangkan kosa kata.
- Membaca sastra yaitu membaca yang bercermin pada karya sastra dari keserasian keharmonisan antara bentuk dan keindahan isi.
Membaca
skimming (sekilas) adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide
pokok.
Membaca cepat adalah keterampilan
memilih isi bahan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan kita, yang ada
relevansinya dengan kita, tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian
bagian lain yang tidak kita perlukan.
Membaca
Cepat
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, membaca cepat diartikan sebagai membaca dalam hati dengan tujuan
memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya dan dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya (Depdiknas, 2008). Sedangkan techonly13.wordpress.com
menyatakan membaca cepat adalah sistem membaca dengan memperhitungkan waktu
baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya.
Membaca
cepat adalah membaca dengan teknik cepat tanpa mengurangi pemahaman
terhadap isi bacaan. Biasanya dalam
kegiatan membaca cepat dapat dibaca sekitar 200 kata per menit. Kemampuan
pemahaman dikatakan berhasil apabila pembaca mampu menjawab pertanyaan bacaan
dengan kecepatan jawaban benar 75%.
Pernahkah kamu berlatih membaca cepat? Sudah berhasilkan usaha tersebut?
Kecepatan
membaca dan kemampuan memahami isi bacaan dapat kita tingkatkan. Hal itu
bergantung pada teknik dan kemampuan kita. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam membaca cepat adalah sebagai berikut.
1. Metode gerak mata
Metode
ini merupakan cara membaca dengan memperluas jangkauan mata dan mengurangi
regresi/pengulangan. Bacalah teks dalam
hati dengan memperluas pandangan
jangkauan mata. Usahakan jangan sampai mengulang kata atau kalimat yang
sudah kamu baca. Membaca mundur
disebut regresi. Hal itu akan
memperlambat kecepatan membaca dan mengganggu dalam memahami isi bacaan.
2. Menghilangkan kebiasaan membaca dengan
bersuara
Dalam
membaca cepat, bacalah teks dalam hati! Janganlah kamu membaca dengan
bersuara dengan mulut bergerak-gerak seperti akan menyuarakan
sesuatu. Jangan menggunakan wajah, tangan, dan alat lain untuk menunjuk kata demi kata dalam bacaan
tersebut. Hal itu akan memperlambat kamu dalam membaca cepat.
3. Meningkatkan konsentrasi
Fokuskan
konsentrasi, meliputi mata, pikiran, maupun hati pada isi bacaan. Pikiran harus
bersih dan positif. Jangan diisi
hal-hal lain atau pendapatmu sendiri ketika sedang membaca. Hati kita pun harus
senang, ikhlas, dan bersungguh-sungguh. Hal-hal tersebut akan membantu kita
memahami isi bacaan dengan lebih maksimal.
Perbedaan dan Pengertian Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Perbedaan
dan Pengertian Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
PENGERTIAN PENELITIAN ILMIAH DAN DAN
NON ILMIAH
Beberapa pengertian Penelitian :
Penelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Dalam mencari fakta-fakta ini diperlukan usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Beberapa pakar lain memberikan definisi penelitian sebagai berikut :
Penelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Dalam mencari fakta-fakta ini diperlukan usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Beberapa pakar lain memberikan definisi penelitian sebagai berikut :
1. David H Penny
Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
2. J. Suprapto
Penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, serta sistematis.
Penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, serta sistematis.
3. Sutrisno Hadi
Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
4. Mohammad Ali
Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.
Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.
5. The New Horison Ladder Dictionary
Pengertian research ialah a careful study to discover correct information, yang artinya, suatu penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati untuk memperoleh informasi yang benar.
Pengertian research ialah a careful study to discover correct information, yang artinya, suatu penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati untuk memperoleh informasi yang benar.
Secara etimologi, penelitian berasal
dari bahasa Inggris “research� (re berarti kembali, dan search berarti mencari). Dengan
demikian research berarti mencari kembali.
Menurut kamus Webster’s New
Internasional, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam
mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk
menetapkan sesuatu. Hillway dalam bukunya Introduction to research
mengemuka-kan bahwa penelitian adalah suatu metode belajar yang dilakukan
seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu
masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut.
(Hillway, 1965)
Tuckman mendefinisikan penelitian
(research) : “ a systematic attempt to provide answer to question � yaitu penelitian merupakan suatu
usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah.
Sistematis artinya mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu. Jawaban
ilmiah adalah rumusan pengetahuan, generaliasi, baik berupa teori, prinsip baik
yang bersifat abstrak maupun konkret yang dirumuskan melalui alat- primernya,
yaitu empiris dan analisis. Penelitian itu sendiri bekerja atas dasar asumsi,
teknik dan metode.
Kadang-kadang orang menyamakan
pengertian penelitian dengan metode ilmiah. Sesuai dengan tujuannya, penelitian
dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji
kebenaran suatu pengetahuan dimana usaha-usaha itu dilakukan dengan menggunakan
metode ilmiah. Kegiatan penelitian adalah suatu kegiatan objektif dalam usaha
mengembangkan, serta menguji ilmu pengetahuan berdasarkan atas prinsip-prinsip,
teori-teori yang disusun secara sistematis melalui proses yang intensif dalam
pengembangan generalisasi. Sedangkan metode ilmiah lebih mementingkan aplikasi
berpikir deduktif-induktif di dalam memecahkan suatu masalah.
Fokus perhatian dalam suatu
penelitian adalah masalah, masalah yang muncul dalam pikiran peneliti
berdasarkan penelaahan situasi yang meragukan (a perplexing situation). Masalah
adalah titik sentral dari keseluruhan penelitian.
Pengertian lain dari Penelitian :
Salah satu hal yang penting dalam dunia ilmu adalah penelitian (research). Research berasal dari kata re yang berarti kembali dan search yang berarti mencari, sehingga research atau penelitian dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan.
Salah satu hal yang penting dalam dunia ilmu adalah penelitian (research). Research berasal dari kata re yang berarti kembali dan search yang berarti mencari, sehingga research atau penelitian dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan.
Research, menurut The Advanced
Learner’s Dictionary of Current English (1961) ialah penyelidikan atau
pencarian yang seksama untuk memperoleh fakta baru dalam cabang ilmu
pengetahuan.
Menurut Fellin, Tripodi dan Meyer
(1969) riset adalah suatu cara sistematik untuk maksud meningkatkan,
memodifikasi dan mengembangkan pengetahuan yang dapat disampaikan
(dikomunikasikan) dan diuji (diverifikasi) oleh peneliti lain.
Selain itu penelitian juga dapat
didefinisikan sebagai :
a. Suatu usaha untuk mengumpulkan, mencatat dan menganalisa sesuatu masalah.
a. Suatu usaha untuk mengumpulkan, mencatat dan menganalisa sesuatu masalah.
b. Suatu penyelidikan secara
sistematis, atau dengan giat dan berdasarkan ilmu pengetahuan mengenai
sifat-sifat daripada kejadian atau keadaan-keadaan dengan maksud untuk akan
menetapkan faktor-faktor pokok atau akan menemukan paham-paham baru dalam
mengembangkan metode-metode baru.
c. Penyelidikan dari suatu bidang
ilmu pengetahuan yang dijalankan utnuk memperoleh fakta-fakta atau
prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.
d. Usaha untuk menemukan, mengembangkan
dan menguji kebenaran suatu pengetahuan usaha mana dilakukan dengan menggunakan
metode-metode ilmiah.
e. Pemikiran yang sistematis
mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan
penafsiran fakta-fakta.
Dari kelima definisi di atas dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Merupakan usaha untuk memperoleh
fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/mengembangkan/
menguji kebenaran).
2. Dengan cara/kegiatan
mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data (informasi/keterangan)
Dikerjakan dengan sabar, hati-hati,
sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah
Penelitian dan Metode Ilmiah
Penelitian dapat digolongkan dalam dua, sesuai dengan ukuran kwalitasnya yaitu penelitian ilmiah dan penelitian tidak ilmiah atau yang dilakukan oleh orang awam. Penelitian tidak ilmiah mempunyai ciri-ciri dilakukan tidak sistematik, data yang dikumpulkan dan cara-cara pengumpulan data bersifat subyektif yang sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan dari si peneliti. Karena itu penelitian tidak ilmiah adalah penelitian yang coraknya subyektif. Sedangkan penelitian ilmiah adalah suatu kegiatan yang sistematik dan obyektif untuk mengkaji suatu masalah dalam usaha untuk mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsipnya yang mendasar dan berlaku umum (teori) mengenai masalah tersebut. Penelitian yang dilakukan, berpedoman pada berbagai informasi (yang terwujud sebagai teori-teori) yang telah dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, dan tujuannya adalah untuk menambah atau menyempurnakan teori yang telah ada mengenai masalah yang menjadi sasaran kajian.
Berbeda dengan penelitian tidak ilmiah, penelitian ilmiah dilakukan dengan berlandaskan pada metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Dalam sains dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya, yang terbanyak dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan; eksperimen, generalisasi, dan verifikasi juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan penelitian oleh para ahli dalam bidang-bidang ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan budaya untuk memperoleh hasil-hasil penelitian tertentu sesuai dengan tujuan penelitiannya. Metode ilmiah berlandaskan pada pemikiran bahwa pengetahuan itu terwujud melalui apa yang dialami oleh pancaindera, khususnya melalui pengamatan dan pendengaran. Sehingga jika suatu pernyataan mengenai gejala-gejala itu harus diterima sebagai kebenaran, maka gejala-gejala itu harus dapat di verifikasi secara empirik. Jadi, setiap hukum atau rumus atau teori ilmiah haruslah dibuat berdasarkan atas adanya bukti-bukti empirik.
Penelitian dapat digolongkan dalam dua, sesuai dengan ukuran kwalitasnya yaitu penelitian ilmiah dan penelitian tidak ilmiah atau yang dilakukan oleh orang awam. Penelitian tidak ilmiah mempunyai ciri-ciri dilakukan tidak sistematik, data yang dikumpulkan dan cara-cara pengumpulan data bersifat subyektif yang sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan dari si peneliti. Karena itu penelitian tidak ilmiah adalah penelitian yang coraknya subyektif. Sedangkan penelitian ilmiah adalah suatu kegiatan yang sistematik dan obyektif untuk mengkaji suatu masalah dalam usaha untuk mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsipnya yang mendasar dan berlaku umum (teori) mengenai masalah tersebut. Penelitian yang dilakukan, berpedoman pada berbagai informasi (yang terwujud sebagai teori-teori) yang telah dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, dan tujuannya adalah untuk menambah atau menyempurnakan teori yang telah ada mengenai masalah yang menjadi sasaran kajian.
Berbeda dengan penelitian tidak ilmiah, penelitian ilmiah dilakukan dengan berlandaskan pada metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Dalam sains dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya, yang terbanyak dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan; eksperimen, generalisasi, dan verifikasi juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan penelitian oleh para ahli dalam bidang-bidang ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan budaya untuk memperoleh hasil-hasil penelitian tertentu sesuai dengan tujuan penelitiannya. Metode ilmiah berlandaskan pada pemikiran bahwa pengetahuan itu terwujud melalui apa yang dialami oleh pancaindera, khususnya melalui pengamatan dan pendengaran. Sehingga jika suatu pernyataan mengenai gejala-gejala itu harus diterima sebagai kebenaran, maka gejala-gejala itu harus dapat di verifikasi secara empirik. Jadi, setiap hukum atau rumus atau teori ilmiah haruslah dibuat berdasarkan atas adanya bukti-bukti empirik.
Perbedaan Berdasarkan Keilmiahan :
1. Penelitian Ilmiah
Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar/tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu:
1. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:
2. Kemampuan untuk meramalkan: sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;
2. Penelitian non ilmiah (Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah)
• Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll.
• Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan/menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.
1. Penelitian Ilmiah
Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar/tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu:
1. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:
2. Kemampuan untuk meramalkan: sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;
2. Penelitian non ilmiah (Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah)
• Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll.
• Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan/menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.
2. Syarat-syarat apa/ kriteria apa
yang harus dipenuhi agar suatu penelitian dikatakan sebagai Penelitian Ilmiah?
Sifat atau ciri dari penelitian:
(1) pasif, hanya ingin memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan,
(2) aktif, ingin memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesa.
Posisi penelitian sendiri pada umumnya adalah menghubungkan:
(1) Keinginan manusia, (2) permasalahan yang timbul, (3) ilmu pengetahuan, dan (4) metode ilmiah.
(1) pasif, hanya ingin memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan,
(2) aktif, ingin memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesa.
Posisi penelitian sendiri pada umumnya adalah menghubungkan:
(1) Keinginan manusia, (2) permasalahan yang timbul, (3) ilmu pengetahuan, dan (4) metode ilmiah.
Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah:
1. Purposiveness, fokus tujuan yang jelas;
2. Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
3. Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
4. Replicability, Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
5. Objectivity, Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
6. Generalizability, Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
7. Precision, Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
8. Parsimony, Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
1. Purposiveness, fokus tujuan yang jelas;
2. Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
3. Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
4. Replicability, Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
5. Objectivity, Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
6. Generalizability, Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
7. Precision, Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
8. Parsimony, Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
Penelitian yang dilakukan dengan
metode ilmiah disebut penelitian ilmiah. Suatu penelitian harus memenuhi
beberapa karakteristik untuk dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah. Umumnya
ada lima karakteristik penelitian ilmiah, yaitu :
1. Sistematik
Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
2. Logis
Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus) atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.
Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus) atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.
3. Empirik
artinya suatu penelitian biasanya didasarkan pada pengalaman sehari-hari (fakta aposteriori, yaitu fakta dari kesan indra) yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian.
artinya suatu penelitian biasanya didasarkan pada pengalaman sehari-hari (fakta aposteriori, yaitu fakta dari kesan indra) yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian.
Landasan penelitian empirik ada tiga
yaitu :
a. Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain)
b. Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu
c. Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (ada hubungan sebab akibat).
a. Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain)
b. Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu
c. Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (ada hubungan sebab akibat).
4. Obyektif,
artinya suatu penelitian menjahui aspek-aspek subyektif yaitu tidak mencampurkannya dengan nilai-nilai etis.
artinya suatu penelitian menjahui aspek-aspek subyektif yaitu tidak mencampurkannya dengan nilai-nilai etis.
5. Replikatif,
artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus diuji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variabel menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.
artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus diuji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variabel menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.
3. Apa perbedaan antara riset murni/
bioriset dengan riset terapan/ apply riset?
Pengertian Riset
• Pada dasarnya riset adalah setiap proses yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Menurut Clifford Woody riset adalah suatu pencarian yang dilaksankan dengan teliti untuk memperoleh kenyataan-kenyataan atau fakta atau hukum-hukum baru. Di dalamnya terdapat usaha dan perencanaan yang sungguh-sungguh yang relatif makan waktu yang cukup lama.
• Pada dasarnya riset adalah setiap proses yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Menurut Clifford Woody riset adalah suatu pencarian yang dilaksankan dengan teliti untuk memperoleh kenyataan-kenyataan atau fakta atau hukum-hukum baru. Di dalamnya terdapat usaha dan perencanaan yang sungguh-sungguh yang relatif makan waktu yang cukup lama.
• Sedangkan Whiteney (1950)
mengatakan, bahwa di dalam riset terkandung suatu attidute yang gandrung dan
cinta akan adanya perubahan-perubahan.
• Selanjutnya lebih tegas
dikemukakan oleh Berkner (1985), bahwa riset adalah usaha secara ilmiah untuk
mendapatkan dan memperluas ilmu yang telah dimiliki.
• Folson, dalam ahun yang sama,
mengemukakan, bahwa riset adalah kegiatan ilmiah untuk menemukan sesuatu yang
baru sama sekali.
• Trullinger (1951) mengemukakan
bahwa riset adalah kegiatan ilmiah untuk mendapatkan atau menembus batas-batas
ilmu yang telah ada.
• True (1907) mengatakan bahwa riset
itu adalah usaha-usaha ilmiah untuk mencari jawaban-jawaban masalah tertentu.
• F. Rumawas (1973-1974) mengatakan
bahwa penelitian itu adalah suatu usaha manusia untuk mengisi kekosongan illmu
pengetahuan,
• National Science Foundation (1956)
memberikan pengertian bahwa riset itu adalah usaha pencarian secara sistematik
dan mendalam untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan lebih
sempurna tentang subyek yang sedang dipelajari. Uraian yang lebih jelas kiranya
dapat diperoleh dari uraian
• Sutrisno Hadi (1978) sebagai
berikut: riset berarti usaha menemukan, mengembangkan dan menguji suatu
pengetahuan secara ilmiah.
Maksud dan Tujuan Riset
• Untuk memperoleh data yang akurat,
konsisten dan dapat dipercaya, yang penting bagi bahan perencanaan pembangunan
negara dan bangsa.
• Mencari jalan pemecahan masalah
atau masalah-masalah yang sedang dan yang akan dihadapi, seperti misalnya bagi
indonesia masalah eksplosi penduduk (umpama transmigrasi), peningkatan
penghasilan per kapita dan lain-lainnya.
• Untuk meningkatkan kohesi
nasional. Penyelenggaraan pertemuan atau rapat kerja ilmiah antara ahli-ahli di
indonesia, dapat menumbuhkan serta mengembangkan dan membina kohesi nasional.
Di dalamnya akan tumbuh satu bangsa, satu bahasa dan satu negara.
• Meningkatkan dan membina kerukunan
bangsa-bangsa dunia.
• Mencari dan menemukan ilmu
pengetahuan baru atau meluaskan horison ilmu yang telah dimiliki sekarang.
Jenis-Jenis Riset
Berdasarkan beberapa pertimbangan para ahli, riset digolongkan atas beberapa jenis seperti:
1. riset dasar (basic research),
2. riset terapan (applied research),
3. riset perkembangan (development research) dan
4. riset adaptasi (adapted reseearch)
Berdasarkan beberapa pertimbangan para ahli, riset digolongkan atas beberapa jenis seperti:
1. riset dasar (basic research),
2. riset terapan (applied research),
3. riset perkembangan (development research) dan
4. riset adaptasi (adapted reseearch)
1. Riset Dasar
- Jenis riset ini adalah merupakan suatu penelitian yang penemuannya tidak atau belum dikaitkan dengan latar belakang kegiatannya secara praktis.
- Riset ini bertujuan mencari dan menemukaan hukum-hukum baru yang bersifat umum dan mengusahakna untuk memperluas dan memperjelas pengertian tentang fenomena yang sedang diteliti. (Rome, 1961).
- Misalnya ilmu tentang atom-atom dan listrik dahulunya merupakan hasil riset dasar. Namun sekarang ilmu itu telah merupakan mukzizat bagi semua manusia di atas bumi.
- Jenis riset ini adalah merupakan suatu penelitian yang penemuannya tidak atau belum dikaitkan dengan latar belakang kegiatannya secara praktis.
- Riset ini bertujuan mencari dan menemukaan hukum-hukum baru yang bersifat umum dan mengusahakna untuk memperluas dan memperjelas pengertian tentang fenomena yang sedang diteliti. (Rome, 1961).
- Misalnya ilmu tentang atom-atom dan listrik dahulunya merupakan hasil riset dasar. Namun sekarang ilmu itu telah merupakan mukzizat bagi semua manusia di atas bumi.
2. Riset Pengembangan
- Riset ini bertugas mencek kembali hasil penelitian terapan yang telah diperoleh di suatu daerah atau negara, apakah cocok ataukah tidakAtau apakah harus diadakan variasi guna menyesuaikan dengan kondisi yang baru.
- Bentuk riset ini biasanya merupakan pilot proyek. Bahan penelitian dibuat kecil saja, hingga benar-benar kondisi-kondisi intern dan ekstern dapat dikuasai, atau diselidiki pengaruhnya.
- Suatu contoh, misalnya ialah percobaan adaptasi jenis-jenis padi PB yang telah diketemukan di Los Banhyos, Philipina, di beberapa daerah di Indonesia. Mula-mulanya dicobakan di daerah Bogor, kemudian barulah disebarkan kedaerah-daerah.
- Riset ini bertugas mencek kembali hasil penelitian terapan yang telah diperoleh di suatu daerah atau negara, apakah cocok ataukah tidakAtau apakah harus diadakan variasi guna menyesuaikan dengan kondisi yang baru.
- Bentuk riset ini biasanya merupakan pilot proyek. Bahan penelitian dibuat kecil saja, hingga benar-benar kondisi-kondisi intern dan ekstern dapat dikuasai, atau diselidiki pengaruhnya.
- Suatu contoh, misalnya ialah percobaan adaptasi jenis-jenis padi PB yang telah diketemukan di Los Banhyos, Philipina, di beberapa daerah di Indonesia. Mula-mulanya dicobakan di daerah Bogor, kemudian barulah disebarkan kedaerah-daerah.
3. Riset Adaptasi
- Riset adaptasi tampaknya hampir sama dengan riset pengembangan. Tetapi riset adaptasi melulu diadakan utnuk mengadakan penyelesaian baru pada tempat baru bagi setiap hasil yang telah ketemukan di daerah lainnya.
- Misalnya percobaan-percobaan varietas unggul seperti PB, Pelita I/1 dan Pelita I/2, PB26 dan terakhir PB26 dibeberapa daerah di Indonesia. Biasanya ilmu-ilmu pertanian sosial ekonomilah yang perlu diperiksa penterapannya di daerah baru, apakah sesuai apakah tidak?
- Di dalam bidang industri, terdapat riset terapan dan pengembangan (applied research and development), riset dasar terarah (directed basic research) dan riset dasar tak-terarah (undirected basic research).
- Riset terapan dan pengembangan secara langsung dilakukan untuk memajukan perusahaan atau industri yang besangkutan. Misalnya riset untuk menemukan jenis mesin yang paling mutakhir, kuat dan hemat, dan sebagainya, penelitian untuk memperoleh mesin pencetak yang bersifat ganda, dan sebagainya.
- Penelitian dasar terarah dimaksudkan untuk meneliti hukum-hukum dasar, yang kemudian hari dapat dipakai untuk memajukan perusahaannya.
- Riset dasar tak-terarah dimaksudkan untuk meneliti masalah yang skupnya luas dan tanpa diarahkan untuk memcahkaan suatu masalah yang dihadapi oleh perusahaan atau industri. Perusahaan dan industri tidak mengharapkan keuntungan dengan cepat, yang dikemudian hari mungkin hasil riset ini digunakannya di dalam memajukan industrinya.
- Riset adaptasi tampaknya hampir sama dengan riset pengembangan. Tetapi riset adaptasi melulu diadakan utnuk mengadakan penyelesaian baru pada tempat baru bagi setiap hasil yang telah ketemukan di daerah lainnya.
- Misalnya percobaan-percobaan varietas unggul seperti PB, Pelita I/1 dan Pelita I/2, PB26 dan terakhir PB26 dibeberapa daerah di Indonesia. Biasanya ilmu-ilmu pertanian sosial ekonomilah yang perlu diperiksa penterapannya di daerah baru, apakah sesuai apakah tidak?
- Di dalam bidang industri, terdapat riset terapan dan pengembangan (applied research and development), riset dasar terarah (directed basic research) dan riset dasar tak-terarah (undirected basic research).
- Riset terapan dan pengembangan secara langsung dilakukan untuk memajukan perusahaan atau industri yang besangkutan. Misalnya riset untuk menemukan jenis mesin yang paling mutakhir, kuat dan hemat, dan sebagainya, penelitian untuk memperoleh mesin pencetak yang bersifat ganda, dan sebagainya.
- Penelitian dasar terarah dimaksudkan untuk meneliti hukum-hukum dasar, yang kemudian hari dapat dipakai untuk memajukan perusahaannya.
- Riset dasar tak-terarah dimaksudkan untuk meneliti masalah yang skupnya luas dan tanpa diarahkan untuk memcahkaan suatu masalah yang dihadapi oleh perusahaan atau industri. Perusahaan dan industri tidak mengharapkan keuntungan dengan cepat, yang dikemudian hari mungkin hasil riset ini digunakannya di dalam memajukan industrinya.
Perbedaan antara Riset Dasar dengan
Riset Terapan
1. Basic Research (Penelitian Dasar), Mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
2. Applied Reseach (Penelitian Terapan), Mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
1. Basic Research (Penelitian Dasar), Mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
2. Applied Reseach (Penelitian Terapan), Mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
4. Apa perbedaan Penelitian
Kualitatif dengan Penelitian Kuantitatif ?
Pengertian Penelitian Kualitatif
Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.
Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yng menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasil kan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perpektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan (Hadjar, 1996 dalam Basrowi dan Sukidin, 2002: 2)
Konsep dan Ragam Penelitian Kualitatif
Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas.
Di pihak lain kualitas menunjuk pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pemahaman yang demikian tidak selamanya benar, karena dalam perkembangannya ada juga penelitian kualitatif yang memerlukan bantuan angka-angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala yang diteliti.
Dalam perkembangan lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. 2000: 17) seperti : interpretif grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik, yang kesemuanya itu tercakup dalam klasifikasi metodologi penelitian postpositivisme phenomenologik interpretif.
Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia penelitian istilah penelitian kualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna, yakni makna dari aspek filosofi penelitian dan makna dari aspek desain penelitian.
Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.
Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yng menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasil kan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perpektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan (Hadjar, 1996 dalam Basrowi dan Sukidin, 2002: 2)
Konsep dan Ragam Penelitian Kualitatif
Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas.
Di pihak lain kualitas menunjuk pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pemahaman yang demikian tidak selamanya benar, karena dalam perkembangannya ada juga penelitian kualitatif yang memerlukan bantuan angka-angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala yang diteliti.
Dalam perkembangan lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. 2000: 17) seperti : interpretif grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik, yang kesemuanya itu tercakup dalam klasifikasi metodologi penelitian postpositivisme phenomenologik interpretif.
Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia penelitian istilah penelitian kualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna, yakni makna dari aspek filosofi penelitian dan makna dari aspek desain penelitian.
Pengertian penelitian kualitatif
lainnya:
“Qualitative research is a loosely defined category of research designs or models, all of which elicit verbal, visual, tactile, olfactory, and gustatory data in the form of descriptive narratives like field notes, recordings, or other transcriptions from audio- and videotapes and other written records and pictures or films.” –Judith Preissle
“Qualitative research is a loosely defined category of research designs or models, all of which elicit verbal, visual, tactile, olfactory, and gustatory data in the form of descriptive narratives like field notes, recordings, or other transcriptions from audio- and videotapes and other written records and pictures or films.” –Judith Preissle
Penelitian kualitatif juga disebut
dengan: interpretive research, naturalistic research, phenomenological research
(meskipun ini disebut sebagai jenis dari penelitian kualitaif yang dipakai
penelitian deskriptif).
Perbedaan Penelitian Kualitatif Dan
Kuantitatif
Penelitian untuk membuktikan atau menemukan sebuah kebenaran dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu kantitatif maupun kualitatif. Kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatan tersebut memiliki ukuran dan sifat yang berbeda.
Penelitian untuk membuktikan atau menemukan sebuah kebenaran dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu kantitatif maupun kualitatif. Kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatan tersebut memiliki ukuran dan sifat yang berbeda.
Pendekatan kuantitatif lebih menitik
beratkan pada frekwensi tinggi sedangkan pada pendekatan kualitatif lebih
menekankan pada esensi dari fenomena yang diteliti. Kebenaran dari hasil
analisis penelitian kuantitatif bersifat nomothetik dan dapat digeneralisasi
sedangkan hasil analisis penelitian kualitatif lebih bersifat ideographik,
tidak dapat digeneralisasi.
Hasil analisis penelitian kualitatif
naturalistik lebih bersifat membangun, mengembangkan maupun menemukan
terori-teori sosial sedangkan hasil analisis kuantitatif cenderung membuktikan
maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada.
Perbedaan klasik antara kualitatif
dan kuantitatif
Qualitative Research Quantitative Research
• phenomenological
• inductive
• holistic
• subjective/insider centered
• process oriented
• anthropological worldview
• relative lack of control
• goal: understand actor’s view
• dynamic reality assumed; “slice of life”
• discovery oriented
• explanatory • positivistic
• hypothetico/deductive
• particularistic
• objective/outsider centered
• outcome oriented
• natural science worldview
• attempt to control variables
• goal: find facts & causes
• static reality assumed; relative constancy in life
• verification oriented
• confirmatory
Qualitative Research Quantitative Research
• phenomenological
• inductive
• holistic
• subjective/insider centered
• process oriented
• anthropological worldview
• relative lack of control
• goal: understand actor’s view
• dynamic reality assumed; “slice of life”
• discovery oriented
• explanatory • positivistic
• hypothetico/deductive
• particularistic
• objective/outsider centered
• outcome oriented
• natural science worldview
• attempt to control variables
• goal: find facts & causes
• static reality assumed; relative constancy in life
• verification oriented
• confirmatory
Diadaptasi dari Cook and Reichardt (1979)
Tetapi kesimpulan di sini masih terdapat dikotomi karena tidak menerangkan karakter khusus dari masing-masing jenis penelitian.
Tetapi kesimpulan di sini masih terdapat dikotomi karena tidak menerangkan karakter khusus dari masing-masing jenis penelitian.
Metode Kuantitatif menggunakan
angka-angka dan data staistik, seperti: experiments, correlational studies
using surveys & standardized observational protocols, simulations,
supportive materials for case study.
Yang biasanya ditandai dengan: 1.
Observe events, 2. Tabulate, 3. Summarize data, 4. Analyze, 5. Draw conclusions
Sedangkan kualitatif menggunakan deskripsi dan kategori dalam wujud kata-kata, seperti: open-ended interviews, naturalistic observation (common in anthropology), document analysis, case studies/life histories, descriptive dan self-reflective supplements to experiments serta correlational studies.
Sedangkan kualitatif menggunakan deskripsi dan kategori dalam wujud kata-kata, seperti: open-ended interviews, naturalistic observation (common in anthropology), document analysis, case studies/life histories, descriptive dan self-reflective supplements to experiments serta correlational studies.
Dengan ciri-ciri umum:
1. Observe events (ask questions with open-ended answers)
2. Record/log what is said and/or done
3. Interpret (personal reactions, hypotheses, monitor methods)
4. Return to observe
5. Formal theorizing (speculations and hypotheses)
6. Draw conclusions
1. Observe events (ask questions with open-ended answers)
2. Record/log what is said and/or done
3. Interpret (personal reactions, hypotheses, monitor methods)
4. Return to observe
5. Formal theorizing (speculations and hypotheses)
6. Draw conclusions
Tiga proses yang dipakai
1. Detail tapi open-ended interviews
2. Observasi langsung
3. Menulis dokumen (dengan kata bukan angka)
1. Detail tapi open-ended interviews
2. Observasi langsung
3. Menulis dokumen (dengan kata bukan angka)
Ditinjau dari sisi kemudahan
• kuantitatif, cukup dengan menggunakan software statistik tertentu lewat media komputer (meski harus tetap mengetahui proses statistik).
• Kualitatif, menganalisis konsep-konsep (bukan hanya satu prosedur)
• Kualitatif menggunakan banyak buku sebagai sumber analisa.
• Kuantitatif, cukup dengan mempelajari 2-3 artikel.
Sumber: http://qualitativeresearch.ratcliffs.net
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat ilmiah dan juga sistematis sebagaimana penelitian kuantitatif sekalipun dalam pemilihan sample tidak seketat dan serumit penelitian kuantitatif.
Dalam memilih sample penelitian kualitatif menggunakan teknik non probabilitas, yaitu suatu teknik pengambilan sample yang tidak didasarkan pada rumusan statistik tetapi lebih pada pertimbangan subyektif peneliti dengan didasarkan pada jangkauan dan kedalaman masalah yang ditelitinya.
Lebih lanjut pada penelitian kualitatif tidak ditujukan untuk menarik kesimpulan suatu populasi melainkan untuk mempelajari karakteristik yang diteliti, baik itu orang ataupun kelompok sehingga keberlakukan hasil penelitian tersebut hanya untuk orang atau kelompok yang sedang diteliti tersebut.
• kuantitatif, cukup dengan menggunakan software statistik tertentu lewat media komputer (meski harus tetap mengetahui proses statistik).
• Kualitatif, menganalisis konsep-konsep (bukan hanya satu prosedur)
• Kualitatif menggunakan banyak buku sebagai sumber analisa.
• Kuantitatif, cukup dengan mempelajari 2-3 artikel.
Sumber: http://qualitativeresearch.ratcliffs.net
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat ilmiah dan juga sistematis sebagaimana penelitian kuantitatif sekalipun dalam pemilihan sample tidak seketat dan serumit penelitian kuantitatif.
Dalam memilih sample penelitian kualitatif menggunakan teknik non probabilitas, yaitu suatu teknik pengambilan sample yang tidak didasarkan pada rumusan statistik tetapi lebih pada pertimbangan subyektif peneliti dengan didasarkan pada jangkauan dan kedalaman masalah yang ditelitinya.
Lebih lanjut pada penelitian kualitatif tidak ditujukan untuk menarik kesimpulan suatu populasi melainkan untuk mempelajari karakteristik yang diteliti, baik itu orang ataupun kelompok sehingga keberlakukan hasil penelitian tersebut hanya untuk orang atau kelompok yang sedang diteliti tersebut.
Perbedaan Antara Penelitian
Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
Kebutuhan pemahaman yang benar dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan penelitian merupakan hal yang penting agar dapat dicapai hasil yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. PErbedaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yaitu:
Kebutuhan pemahaman yang benar dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan penelitian merupakan hal yang penting agar dapat dicapai hasil yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. PErbedaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yaitu:
1. Konsep yang berhubungan dengan
pendekatan
Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
Pendekatan kuantitatif mementingkan
adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel
tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable
masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus
dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan
menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi
penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif
memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan
tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula
statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna
dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara
kebahasaan dan kulturalnya.
2. Dasar Teori
Jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, maka dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi simbolik dari suatu gejala dengan gejala lain yang ditafsir berdasarkan pada budaya yang bersangkutan dengan cara mencari makna semantis universal dari gejala yang sedang diteliti. Pada mulanya teori-teori kualitatif muncul dari penelitian-penelitian antropologi , etnologi, serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena teori-teori ini bersifat umum dan terbuka maka ilmu social lainnya mengadopsi sebagai sarana penelitiannya.
Lain halnya dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada apa yang disebut dengan fungsionalisme struktural, realisme, positivisme, behaviourisme dan empirisme yang intinya menekankan pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji empiris dan fakta-fakta yang nyata.
Jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, maka dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi simbolik dari suatu gejala dengan gejala lain yang ditafsir berdasarkan pada budaya yang bersangkutan dengan cara mencari makna semantis universal dari gejala yang sedang diteliti. Pada mulanya teori-teori kualitatif muncul dari penelitian-penelitian antropologi , etnologi, serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena teori-teori ini bersifat umum dan terbuka maka ilmu social lainnya mengadopsi sebagai sarana penelitiannya.
Lain halnya dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada apa yang disebut dengan fungsionalisme struktural, realisme, positivisme, behaviourisme dan empirisme yang intinya menekankan pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji empiris dan fakta-fakta yang nyata.
3. Tujuan
Tujuan utama penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ialah mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai “grounded theory research”.
Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan antar variable, memberikan deskripsi statistik, menaksir dan meramalkan hasilnya.
Tujuan utama penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ialah mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai “grounded theory research”.
Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan antar variable, memberikan deskripsi statistik, menaksir dan meramalkan hasilnya.
4. Desain
Melihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah / berkembang sesuai dengan situasi di lapangan. Kesimpulannya, desain hanya digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitan, oleh karena itu desain harus bersifat fleksibel dan terbuka.
Lain halnya dengan desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, desainnya harus terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin sebelumnya. Desainnya bersifat spesifik dan detil karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya. Oleh karena itu, jika desainnya salah, hasilnya akan menyesatkan. Contoh desain kuantitatif: ex post facto dan desain experimental yang mencakup diantaranya one short case study, one group pretest, posttest design, Solomon four group design dll.nya.
Melihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah / berkembang sesuai dengan situasi di lapangan. Kesimpulannya, desain hanya digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitan, oleh karena itu desain harus bersifat fleksibel dan terbuka.
Lain halnya dengan desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, desainnya harus terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin sebelumnya. Desainnya bersifat spesifik dan detil karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya. Oleh karena itu, jika desainnya salah, hasilnya akan menyesatkan. Contoh desain kuantitatif: ex post facto dan desain experimental yang mencakup diantaranya one short case study, one group pretest, posttest design, Solomon four group design dll.nya.
5. Data
Pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan catatan-catatan lapangan pada jsaat penelitian dilakukan.
Sebaliknya penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif / angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Data tersebut berbentuk variable-variajbel dan operasionalisasinya dengan skala ukuran tertentu, misalnya skala nominal, ordinal, interval dan ratio.
Pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan catatan-catatan lapangan pada jsaat penelitian dilakukan.
Sebaliknya penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif / angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Data tersebut berbentuk variable-variajbel dan operasionalisasinya dengan skala ukuran tertentu, misalnya skala nominal, ordinal, interval dan ratio.
6. Sampel
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sample didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih sample merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sample teoritis dan tidak representatif
Sedang pada pendekatan kuantitatif, jumlah sample besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin sample besar akan semakin merepresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan kuantitatif membutuhkan sample yang besar, maka stratafikasi sample diperlukan . Sampel biasanya diseleksi secara random. Dalam melakukan penelitian, bila perlu diadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sample yang sedang diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variable yang akan diteliti, contoh, penentuan variable yang mana yang ditentukan sebagai variable bebas, variable tergantung, varaibel moderat, variable antara, dan varaibel kontrol. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan terhadap variable pengganggu.
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sample didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih sample merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sample teoritis dan tidak representatif
Sedang pada pendekatan kuantitatif, jumlah sample besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin sample besar akan semakin merepresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan kuantitatif membutuhkan sample yang besar, maka stratafikasi sample diperlukan . Sampel biasanya diseleksi secara random. Dalam melakukan penelitian, bila perlu diadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sample yang sedang diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variable yang akan diteliti, contoh, penentuan variable yang mana yang ditentukan sebagai variable bebas, variable tergantung, varaibel moderat, variable antara, dan varaibel kontrol. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan terhadap variable pengganggu.
7. Teknik
Jika peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang bersangkutan kan menggunakan teknik observasi terlibat langsung atau riset partisipatori, seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang antropologi dan etnologi sehingga peneliti terlibat langsung atau berbaur dengan yang diteliti. Dalam praktiknya, peneliti akan melakukan review terhadap berbagai dokumen, foto-foto dan artefak yang ada. Interview yang digunakan ialah interview terbuka, terstruktur atau tidak terstruktur dan tertutup terstruktur atau tidak terstruktur.
Jika pendekatan kuantitatif digunakan maka teknik yang dipakai akan berbentuk observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen dan eksperimen semu. Dalam mencari data, biasanya peneliti menggunakan kuesioner tertulis atau dibacakan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan apakah itu data primer atau sekunder.
Jika peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang bersangkutan kan menggunakan teknik observasi terlibat langsung atau riset partisipatori, seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang antropologi dan etnologi sehingga peneliti terlibat langsung atau berbaur dengan yang diteliti. Dalam praktiknya, peneliti akan melakukan review terhadap berbagai dokumen, foto-foto dan artefak yang ada. Interview yang digunakan ialah interview terbuka, terstruktur atau tidak terstruktur dan tertutup terstruktur atau tidak terstruktur.
Jika pendekatan kuantitatif digunakan maka teknik yang dipakai akan berbentuk observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen dan eksperimen semu. Dalam mencari data, biasanya peneliti menggunakan kuesioner tertulis atau dibacakan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan apakah itu data primer atau sekunder.
8. Hubungan dengan yang diteliti
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun didasarkan pada saling kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sample itu manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek penelitian.
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan ini seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat objektivitas yang tinggi. Pada umumnya penelitiannya berjangka waktu pendek.
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun didasarkan pada saling kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sample itu manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek penelitian.
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan ini seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat objektivitas yang tinggi. Pada umumnya penelitiannya berjangka waktu pendek.
9. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru, contoh dari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa taksonomi, analisa komponensial, analisa tema kultural, dan analisa komparasi konstan (grounded theory research).
Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear dll.nya.
Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru, contoh dari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa taksonomi, analisa komponensial, analisa tema kultural, dan analisa komparasi konstan (grounded theory research).
Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear dll.nya.
Kesimpulan
Kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti.
Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya
Kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti.
Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya
Metode kuantitatif dan kualitatif
sering digunakan dengan nama metode yang tradisional, dan metode baru; metode
positivistik dan metode postpositivistik; metode scientific dan metode
artistik, metode konfirmasi dan temuan; serta kuantitatif dan dan interpretif.
Jadi metode kuantitatif sering dinamakan metide tradisional, positifistik,
scientific dan metode discovery. Selanjutnya metode kualitatif sering dinamakan
sebagai metode baru, postpositivistik; aretistik; dan interpretive research.
Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup
lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian.
Metode ini disebut sebagai metode positifistik karena berlandaskan pada
filsafat positifisme. Metode ini juga sebagai metode scientific/ilmiah karena
telah memenuhi kaedah ilmiah yaitu kongkrit, obyrktif, terstruktur, rasional,
dan sistematis. Metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek
baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa
angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru, karena
populasitasnya belum lama, dinamakan metode postpositifistik karena
berlandaskan pada filsafat postpositifisme. Metode ini disebut juga sebagai
metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola),
dan disebut metode interpretif karena data hasil penelitian lebih berkenenaan
dengan interprestasi terhadap data yang ditemukan dilapangan. Untuk selanjutnya
dalam buku ini kedua metode itu disebut mitode kualitatif dan kuantitatif.
Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitan naturalistik
karena penelitianya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting);
disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode ini lebih
banya digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut sebagai
metode kualitatif, karen data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat
kualitatif.
Catatan Piala Eropa - Asa Baru Polandia Melalui Sepakbola
Catatan Piala Eropa - Asa Baru Polandia Melalui Sepakbola
|
Beritabola.com Bandung
- Beberapa saat jelang dimulainya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan,
The Guardian menurunkan artikel karya intelektual Marxis, Terry
Eagletton, yang berjudul provokatif, "Football: A Dear Friend to
Capitalism". Dalam artikel yang panjangnya hanya 7 paragraf itu, Eagletton -- dengan memplesetkan ucapan Karl Marx yang termasyhur -- menyebut candu bagi rakyat sekarang bukanlah agama, tapi sepakbola. Eagletton menyebut pemerintahan David Cameron di Inggris saat itu sebagai kabar buruk bagi siapapun yang menginginkan perubahan yang radikal. Tetapi sepakbola bahkan jauh lebih buruk lagi daripada itu, tulis Eagletton yang karyanya tentang teori sastra Marxis sangat populer di kalangan mahasiswa sastra di Indonesia ini. "Tiap kali politisi atau pemikir sayap kanan berusaha mengalihkan perhatian rakyat dari ketidakadilan politik dan ekonomi," kata Eagletton, "solusinya selalu sama: sepakbola." Saat artikel Eagletton itu ditulis, krisis ekonomi memang sedang membayang menyusul ambruknya Lehman Brothers. Banyak negara Eropa, bahkan termasuk Amerika, yang kelimpungan mengatasi krisis ini. Yunani, salah satu negara peserta EURO 2012, adalah salah satu negara yang paling terpukul akibat krisis ini. Sampai sekarang, Yunani masih harus bertarung dengan ancaman krisis yang masih membelit perekonomian mereka. Polandia, tuan rumah EURO 2012 yang kebetulan dihadapi Yunani di laga pembukaan tadi malam, justru menjadi salah satu negara yang paling kebal dari krisis ekonomi ini. Saat negara-negara lain kelimpungan menghadapi krisis, pertumbuhan ekonomi Polandia justru menjadi salah satu yang tertinggi dan stabil di Eropa. Dengan latar itulah EURO 2012 digelar di Polandia. Setelah berhasil menunjukkan kestabilan pertumbuhan ekonomi, turnamen ini diharapkan bisa kian memantapkan posisi penting Polandia di Eropa. Dan itu berarti: interaksi dan keterlibatan dengan semua proses yang berjalan di Eropa. "Problemnya adalah tidak ada pilihan. Kita harus menyatu dengan Eropa secara bersama-sama. Harus belajar satu sama lain," kata Lech Walesa kepada kolomnis sepakbola Jonathan Wilson. Walesa bukan hanya pernah menjadi presiden Polandia pada periode 1990-1995. Dia salah satu tokoh yang memungkinkan Polandia bisa "menyatu" dengan Eropa. Ketika Polandia masih berada di bawah pemerintahan rezim komunis, Walesa ikut mendirikan dan memimpin organisasi buruh galangan kapal di Gdanks. Lahirlah organ perlawanan Solidarnosc (Solidarity). Pemogokan 17 ribu buruh pada 1980 memaksa rezim komunis Polandia membuka pintu negosiasi. Walesa menjadi tokoh terpenting dalam pemogokan itu sekaligus menjadi salah satu negosiator buruh dengan pemerintah. Hasilnya: rezim komunis Polandia terpaksa menandatangani kesepakatan guna mengakhiri pemogokan itu pada 31 Agustus 1980. Butuh waktu 9 tahun kemudian untuk benar-benar meruntuhkan rezim komunis di Polandia. Akan tetapi, bagi banyak kalangan, pemogokan di Gdanks yang diorganisir Walesa dan Solidarnosc itu menjadi awal keruntuhan rezim-rezim komunis di Eropa. Pemogokan itu adalah retakan pertama pada tembok yang membelah Eropa menjadi dua bagian: Barat (baca: sekutu/NATO) dan Timur (negara-negara komunis/Pakta Warsawa). Sepakbola menjadi salah satu elemen penting perlawanan Solidarnosc di Polandia, khususnya di Gdanks. Klub lokal Gdanks, Lechia, banyak didukung oleh anggota Solidarnosc. Selama masa perlawanan itu, spanduk-spanduk dan yel-yel perlawanan Solidarnosc sering menghiasai tribun yang menjadi kandang Lechia. Pada 28 September 1983, saat Lechia menghadapi Juventus dalam kualifikasi Piala Winners, terjadilah momen yang tak terlupakan bagi suporter Lechia, para anggota Solidarnosc dan Walesa sendiri. Walesa yang baru saja dibebaskan dari tahanan, berhasil diselundupkan ke dalam stadion. Pada pertengahan babak pertama, Walesa muncul di tribun dan langsung disambut aplaus panjang oleh massa yang hadir di stadion. Massa tak henti-hentinya meneriakkan nama Walesa dan Solidarnosc sampai akhir pertandingan. "Semuanya terdengar sempurna," kenang Walesa kepada Jonathan Wilson. Ya, sempurna. Sebab, memang, tidak ada tempat selain tribun stadion yang saat itu bisa memberikan sedikit kebebasan. Bahkan, masih merujuk kesaksian Walesa, tribun stadion saat itu menjadi tempat di mana polisi rahasia sama sekali kehilangan kontrolnya. Orang-orang Polandia di luar negeri juga menggelar perlawanan, lagi-lagi sepakbola menjadi salah satu mediumnya. Ketika timnas Inggris U-21 menjamu Polandia U-21 pada 7 April 1982 di London, anggota organisasi Polish Solidarity Campaign yang berbasis di Inggris menyusup ke stadion dan membentangkan spanduk serta menyanyikan lagu-lagu perlawanan. Aksi itu bukan hanya didengar mereka yang ada di stadion, tapi juga jutaan orang lain yang menyaksikannya lewat televisi. Jangan heran jika siaran langsung pertandingan timnas Polandia di Piala Dunia 1982 di Spanyol sampai harus di-delay beberapa menit untuk mengantisipasi munculnya pesan-pesan perlawanan di layar kaca. Walesa masih bisa menyaksikan negerinya menjadi tuan rumah EURO 2012. Saat menyaksikan Polandia berhadapan dengan Yunani di laga pembukaan tadi malam, Walesa mungkin akan teringat kembali dengan laga Lechia Gdanks vs Juventus (agregat gol 10-2 untuk Juventus). Jika dulu sepakbola menjadi salah satu tempat membiaknya semangat perlawanan pada rezim komunis, kini sepakbola -- melalui EURO 2012-- justru diharapkan Walesa bisa kian mendekatkan dan mengintegrasikan Polandia dengan Eropa. Di sinilah barangkali koinsidensi itu terlihat. Jika pada 1980 silam para buruh Polandia sukses membuat retakan pertama pada dominasi komunisme di Eropa, pada 2012 ini Polandia pula yang menjadi negara eks-komunis pertama yang menggelar turnamen besar sepakbola. Sejak runtuhnya Sovyet pada 1991 (dengan mengecualikan beberapa kota eks Jerman Timur yang menjadi host Piala Dunia 2006), baru kali ini negara eks-komunis menjadi tuan rumah event besar sepakbola (baik itu Piala Eropa atau Piala Dunia). Barulah pada 2018 nanti Piala Dunia akan digelar di Rusia. Polandia yang mengawali kejatuhan rezim komunis di Eropa, Polandia pula yang menjadi negara eks-komunis pertama yang menggelar turnamen besar sepakbola -- yang dalam nafas artikel Terry Eagletton di atas dianggapnya sebagai "pesta candu bagi rakyat". Inilah saat di mana Polandia, dengan inisiatif sendiri, mencoba secara aktif menjadikan dirinya sebagai panggung perhatian Eropa. Sepanjang abad 20 yang baru saja lewat, Polandia lebih banyak "dipilih" ketimbang "memilih" sebagai pusat perhatian Eropa. Bukan pilihan Polandia jika mereka harus bertempur mempertahankan diri serangan Sovyet pada dekade 1920-an. Bukan maunya Polandia jika serangan blitzkrieg Jerman ke negara mereka pada 1 September 1939 menjadi "kick-off" dimulainya Perang Dunia II. Bukan mau Polandia juga jika Hitler membangun kamp konsentrasi di Polandia. Bukan sepenuhnya mau Polandia juga jika pada 1955 negara-negara yang berada di bawah pengaruh Uni Soviet memutuskan membangun aliansi militer untuk menghadapi NATO dengan menandatangani Pakta Warsawa. Dengan menjadi tuan rumah EURO 2012, kali ini Polandia sendiri yang memilih secara sadar untuk menjadi panggung bertemunya kekuatan-kekuatan besar (sepakbola) Eropa. Itulah kenapa Jonathan Wilson, dengan nada yang plastis, menyebut EURO 2012 ini sebagai tanda "lahirnya sebuah bangsa yang proaktif". Bahwa proaktif di situ juga berarti proaktif membuka pintu bagi masuknya modal-modal asing, itu hal berbeda yang pantas menjadi subyek tulisan yang berbeda pula. Pernyataan Terry Eagletton tentang sepakbola memang tak sepenuhnya salah. |
Kata kata bijak
Kata kata bijak
Setiap saat dalam hidupmu adalah ibarat gambar yang belum pernah terlihat, dan gambar yang tidak akan pernah terlihat lagi. Jadi, nikmati hidupmu dan jadikan setiap momen menjadi indah.Jangan merusak apa yang kau miliki sekarang dengan mengejar sesuatu yang tidak mungkin kau miliki. Sebab, apa yang ada padamu saat ini bisa jadi merupakan salah satu dari banyak hal yang paling kau impikan.
Jika kamu berdoa, jangan meminta kehidupan yang mudah, tetapi mintalah kepada tuhan untuk menjadikanmu pribadi yang kuat.
Hidup itu seperti mengendaradi sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, sepeda harus terus berjalan. Demikian pula hidup ini.
Rayakanlah setiap hari dalam hidupmu karena sesungguhnya hari esok akan datang sangat cepat.
Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup sebab pendidikan yang sesungguhnya adalah kehidupan itu sendiri.
Tidak ada hal yang lebih lembut dari kekuatan, dan tidak ada hal yang lebih kuat dari kelembutan.
Orang bebal selalu mengira bahwa tuhan ada di sampingnya. Sebaliknya, orang bijak selalu berusaha mendekatkan diri kepada tuhan.
Senyuman merupakan hal kecil yang dapat membuat hidup ini menjadi lebih mudah.
Hidup melalui jalan tanpa hambatan sangat jarang berujung pada kesuksesan.
Kesenanagan terbesar dalam hidup ini adalah melakukan hal, dimana orang lain menganggap bahwa kita tidak mampu melakukan hal tersebut.
PARAGRAF JURNALISTIK
Penulisan Jurnal
PARAGRAF JURNALISTIK
OLEH
Risal Al Irvan
A. PENDAHULUAN
Paragraf
merupakan suatu bagian dari karangan yang di dalamnya terdiri atas beberapa
kalimat yang selalu berkaitan satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan
yang utuh membentuk satu pikiran utama. Di dalam paragraf biasanya terdapat
satu kalimat yang menjadi pokok pikiran dari paragraf tersebut yang biasa kita
kenal dengan kalimat utama.
Persyaratan
paragraf yang baik sebagai berikut : (1) Kepaduan Paragraf, untuk
mencapai kepaduan, langkah-langkah yang harus anda tempuh adalah kemampuan
merangkai kalimat sehingga bertalian secara logis dan padu. Bagaimanakah agar
kalimat bertahan secara logis dan padu? Gunakan kata penghubung.
Terdapat dua
jenis kata penghubung, yaitu kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung
antarkalimat. Kata penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak
kalimat dengan induk kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat adalah
kata yang menghubungkan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Contoh
penghubung intrakalimat yaitu karena, sehingga, tetapi, sedanglan, apabila,
jika, maka, dan lain-lain. Contoh penghubung antarkalimat yakni oleh
karena itu, jadi, kemudian , namun, selanjutnya, bahkan, dan lain-lain. (2)
Kesatuan Paragraf selain kepaduan, persyaratan penulisan paragraf yang baik
adalah prinsip kesatuan. Yang dimaksud kesatuan adalah tiap paragraf hanya
mengandung satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama. Kalimat
utama yang diletakkan di awal paragraf dinamakan paragraf deduktif, sedangkan
kalimat utama yang diletakkan di akhir paragraf disebut paragraf induktif.
Terdapat
ciri-ciri dalam membuat kalimat utama, yakni kalimat yang dibuat harus
mengandung permasalahan yang berpotensi untuk diperinci atau diuraikan lebih
lanjut. Sebagai contoh “David Beckham adalah pemain sepak bola yang sukses”
adalah kalimat utama yang bisa dejelaskan lebih lanjut apa saja yang
membuktikan bahwa David Beckham seorang yang sukses.
Ciri-ciri
yang lain yaitu kalimat utama dapat dibuat lengkap dan berdiri tanpa memerlukan
kata penghubung, baik kata penghubung antarkalimat maupun kata penghubung
intrakalimat. (3) Kelengkapan Paragraf, sebuah paragraf dikatakan lengkap
apabila didalamnya terdapat kalimat-kalimat penjelas secara lengkap untuk
menunjuk pokok pikiran atau kalimat utama. Ciri-ciri kalimat penjelas yaitu
berisi penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh dan lain-lain. Selain itu,
kalimat penjelas berarti apabila dihubungkan dengan kalimar-kalimat di dalam
paragraf. Kemudian kalimat penjelas sering memerlukan bantuan kata penghubung,
baik kata penghubung antarkalimat maupun kata penghubung intrakalimat.
Kelengkapan
paragraf berhubung dengan cara mengembangkan paragraf. Paragraf dapat
dikembangkan dengan cara, pertentangan, perbandingan, analogi, contoh, sebab
akibat, definis dan klasifikasi.
Bagian-Bagian
Suatu Paragraf yang Baik sebagai berikut : (1) Terdapat ide atau gagasan yang
menarik dan diperlukan untuk merangkai keseluruhan tulisan . (2) Kalimat yang
satu dengan yang lain saling berkaitan dan berhubungan dengan wajar.
Jenis – jenis
paragraf sebagai berikut : (1) Paragraf Narasi adalah paragraf yang
menceritakan suatu kejadian berdasarkan kronologisnya. (2) Paragraf Deskripsi
adalah paragraf yang menggambarkan suatu objek dengan kata-kata yang merangsang
indra realistis. (3) Paragraf Eksposisi adalah paragraf yang menguraikan suatu
kejadian sejelas-jelasnya agar pembaca mudah mengerti. (4) Paragraf Argumentsi
adalah suatu paragraf yang isinya membuktikan kebenaran suatu pendapat atau
kesimpulan dengan data dan fakta sebagai bukti. (5) Paragraf Persuasi adalah
paragraf yang isinya berupa ajakan kepada pembaca agar melakukan sesuatu yang
diajukan si penulis.
B. PEMBAHASAN
Pembahasan terdiri atas
3 komponen sebagai berikut : (a) Paragraf dalam Berita Utama, (b)
Paragraf dalam Opini, dan (c) Paragraf dalam Tajuk Rencana.
Paragraf Dalam
Berita Utama. Dalam koran Kendari Pos edisi Kamis, 10 November 2011 dalam
halaman 1 dan 7 memuat berita utama yang berjudul “67 Ribu Honorer Akan
Ditelisik Ulang” terdiri atas 8 paragraf. Paragraf utama terdapat pada paragraf
pertama yaitu”Pemerintah tidak punya perencanaan yang matang rencana
pengangkatan tenaga honorer tercecer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
Semula, seperti disampaikan berulang kali oleh pejabat terkait, pengangkatan
tenaga honorer menunggu Rancangan Peraturan Pemerintah(RPP) tentang
pengangkatan honorer diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di dalam
paragraf utama terdapat ide pokok yaitu ”pengangkatan tenaga honorer menunggu
Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP)”. Di dalam ide pokok terdapat kalimat
utama yaitu ” honorer tertinggal diteken Presiden, akan dilakukan verifikasi
dan validasi”. Kata kunci yaitu honorer yang lebih mendominasi pada paragraf
ke-3 yaitu ”Pemerintah tidak percaya dengan jumlah honorer tertinggal sebanyak
67.385 itu, yang sebelumnya sudah dinyatakan memenuhi kriteria jadi CPNS. Angka
honorer tertinggal hasil verifikasi dan validasi itu(67.385) masih tinggi. Masa
honorer tercecer samapai puluhan ribu dan ini sangat tidak masuk akal”.
Paragraf Dalam
Berita Opini. Dalam koran Kendari Pos edisi Kamis, 10 November 2011 dalam
halaman 2 memuat berita opini yang berjudul “Status Guru Semakin menjanjikan”
Oleh Drs. Burhanuddin.MS,M.MPD terdiri atas 16 paragraf. Paragraf utama
terdapat pada paragraf ke-16 yaitu ”Dalam suatu media kami membaca bahwa suatu
pemerintah bahwa pemerintah berencana untuk mengevaluasi peruntukan jasa
sertifikasi pendidikan. Guru akan disaring dan akan dikelompokkan dan
diperlakukan khusus dan tertentu dalam suatu program khusus, menjadikan guru
sertifikasi huingga layak menyandang guru profesional”. Dalam paragraf utama
terdapat ide pokok yaitu ”program khusus, menjadikan guru sertifikasi hingga
layak menyandang guru profesional”. Dalam ide pokok terdapat kalimat utama
yaitu ”Guru akan disaring dan akan dikelompokkan dan diperlakukan khusus
dan tertentu dalam suatu program khusus, menjadikan guru sertifikasi huingga
layak menyandang guru profesional”. Dari paragraf 1-16 terdapat kata kunci
yaitu “Guru” yang mendominasi di semua paragraf karena inti dari sebuah ide
pokok.
Paragraf Dalam
Berita Tajuk Rencana. Dalam koran Kendari Pos edisi Kamis, 10 November
dalam halaman 4 memuat berita tajuk rencana yang berjudul ” Menertibkan Baliho”
terdiri atas 11 paragraf. Paragraf utama terdapat pada paragraf ke-9 yaitu
”Instansi terkait di Pemkot mengirimkan surat kepada partai-partai
politik mengenai aturan-aturan pemasangan baliho partai. Jika harus ada nilai
yang dibayar untuk memasang media tersebut, juga harus ditransparansikan.
Tujuannya, agar tidak ada miskomunikasi antara pemkot dengan mereka yang
berniat memasang baliho. Tentu, lebih baik menghindari keributan sejak awal”.
Dalam paragraf utama terdapat ide pokok yaitu ”mengenai aturan-aturan
pemasangan baliho partai”. Dalam ide pokok terdapat kalimat utama yaitu ”agar
tidak ada miskomunikasi antara pemkot dengan mereka yang berniat memasang
baliho untuk menghindari keributan sejak awal dan bisa dilegalkan”. Dalam ide
pokok terdapat kata kunci yang merupakan inti dari pokok pembicaraannya yaitu “
Baliho” yang lebih mendominasi terdapat pada paragraf ke-11 yaitu ” Pemasangan
baliho, khususnya dalam Kota Kendari harus mempertanyakan dahulu mekanisme
pemasangan baliho agar bisa dilegalkan”.
C. PENUTUP
Dalam
pembahasan tersebut membahas tentang 3 aspek yaitu berita utama, berita opini
dan berita tajuk rencana yang ke 3 aspek tersebut di dalamnya terdiri atas
paragraf utama, ide pokok, kalimat utama dan kata kunci yang saling berkaitan
satu sama lain.
DAFTAR PUSTAKA
Koran Kendari Pos Edisi Kamis, 10 Oktober 2011
Tim Penyusun.2007 Mata Kuliah MKDU Bahasa
Indonesia.Kendari
Langganan:
Postingan (Atom)